Sabtu, 10 Januari 2009

KONSEP TEKNOLOGI PERTANIAN

Sistem usaha pertanian modern yang lebih dikenal sebagai agribisnis merupakan suatu alternatif dalam perubahan usaha pertanian yang tradisional kearah pertanian yang bukan hanya mengelola lahan dengan memanfaatkan teknologi budidaya untuk mendapatkan produksi yang maksimal, akan tetapi sudah menyertakan pula masukan teknologi untuk mendapatkan produk olahan dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang seoptimal mungkin.
Sampai saat ini banyak usaha pertanian dengan berbagai skala usaha masih terlalu mengeksploitasi lahan untuk tujuan komersil sehingga lahan yang sebelumnya cukup baik menjadi lahan yang marjinal. Hal ini tentu tidak boleh terjadi terus menerus karena lahan pertanian akan terdegradasi secara berangsur-angsur yang berarti kita akan meninggalkan lahan bermasalah untuk generasi masa datang. Apalagi dalam kerangka ekonomi kerakyatan segala usaha termasuk dalammya usaha pertanian haruslah mempertimbangkan kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya yang dimiliki. Oleh sebab itu perlu ditingkatkan pemahaman sumberdaya petani tentang teknologi di bidang pertanian sehingga pemanfaatan lahan dapat dilakukan dengan baik.
Di Provinsi Riau, sumberdaya ekonomi yang siap didayagunakan untuk pembangunan ekonomi daerah adalah sumberdaya pertanian yang terdiri dari sumberdaya alam (lahan, air, sumber keragaman hayati dan agroklimat), sumberdaya manusia yang bekerja di sektor agribisnis, teknologi pertanian dan lain-lain. Walaupun tenaga kerja yang terserap di sektor Pertanian dan sektor terkait cukup besar yaitu mendekati angka 50% dari total tenaga kerja di Daerah Riau, tetapi sumbangan sektor pertanian ini hanya kurang dari 19 % terhadap PDRB daerah Riau (BPS, 2001). Hal ini disebabkab berbagai kendala antara lain teknologi spesifik yang terbatas, pembinaan pasar kurang baik dan adanya persaingan dari produk sejenis.
Aplikasi teknologi di sektor pertanian mempunyai kendala yang cukup beragam mulai dari rendahnya tingkat pendidikan sebahagian besar petani dan pelaku agribisnis sampai kepada teknologi lokalita yang kurang tersedia. Kedaan ini lebih diperburuk lagi oleh keterbatasan modal sehingga petani tidak sepenuhnya dapat membeli dan memanfaatkan teknologi yang sudah ada. Usaha kearah perbaikan sebenarnya sudah mulai dilaksanakan melalui berbagai pembinaan yang masih bersifat parsial, sehingga belum dapat berhasil dengan baik. Komitmen yang tidak jelas serta koordinasi antar pihak terkait yang kurang berjalan sesuai dengan perencanaan dan kadang-kadang adanya saling ketidakpercayaan antar pihak merupakan salah satu sebab tidak berhasilnya peningkatan kecakapan petani dan pelaku agribisnis dalam memanfaatkan teknologi.
Terbatasnya teknologi yang tepat lokasi ini sangat berpengaruh kepada produktifitas komoditas pertanian pada umumnya, sehingga belum tercapai optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lahan yang sebenarnya berpotensi untuk memberikan hasil yang lebih banyak. Rendahnya produktifitas lahan ini ditandai oleh besarnya senjang hasil yang diperoleh ditingkat petani dengan hasil di tingkat penelitian. Ada tiga komponen teknologi yang menyebabkan rendahnya produktifitas yaitu aplikasi teknologi budidaya yang masih rendah, penggunaan varitas yang kurang sesuai dengan kondisi lokalita, serta masih besarnya kehilangan hasil setelah panen. Rendahnya tingkat pendidikan dan terbatasnya kecakapan petani merupakan penyebab rendahnya penerapan teknologi oleh petani tersebut. Sedangkan terbatasnya teknologi berupa varitas lokalita dan besarnya kehilangan saat panen dan pasca panen merupakan indikator masih lemahnya pembinaan kepada petani serta minimmya peran daerah dalam menghasilkan teknologi. Oleh sebab itu pengembangan sumberdaya di sektor pertanian sangat perlu untuk dilaksanakan karena kedepan sektor ini masih menjadi salah satu andalan ekonomi daerah Riau yang cukup penting.
Minimal ada tiga alasan pokok untuk mengembangkan teknologi bagi pelaku usaha pertanian sebagai pemikul beban untuk peningkatan produksi, penyerap dan penyedia lapangan kerja dan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Sektor ini harus pula siap menghadapi tantangan global yang untuk Riau sangat terbuka dengan posisi yang berdekatan dengan negara penghasil bahan pertanian terkemuka di Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, Vietnam dan Filipina. Tantangan yang dihadapi sektor pertanian tersebut meliputi berbagai hal. Pertama, kesenjangan yang cukup lebar antara hasil di tingkat petani dengan hasil di tingkat penelitian. Ini terjadi pada sebahagian besar tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan.
Kedua, ketersediaan teknologi spesifik lokasi yang sesuai dengan agroecosystem, sosial ekonomi dan budaya tempatan terbatas. Ketiga, penyediaan varitas dan benih berkualitas dengan harga yang terjangkau masih terkendala. Keempat, kemampuan produk andalan untuk bersaing secara global masih sangat lemah. Kelima, efisiensi penggunaan sarana produksi (Saprodi) tidak dapat meningkatkan pendapatan petani.
Hal ini karena harga Saprodi selalu meningkat sehingga perlu dikembangkan pendekatan budidaya dengan input rendah yang dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
Untuk mendukung pengembangan agribisnis seutuhnya di Riau maka masa yang akan datang diperlukan usaha pengembangan teknologi pertanian secara terus menerus. Disamping pengembangan teknologi untuk proses produksi tanaman pertanian juga harus diikuti dengan inovasi produk dan proses produksi industri pertanian baik teknologi yang akan dimanfaatkan oleh sektor publik atau teknologi untuk rakyat banyak. Berikut adalah beberapa alternatif teknologi yang pantas dikembangkan di Riau dalam rangka pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Diversifikasi komoditas
Dari berbagai pengalaman ternyata usahatani dengan mengandalkan monokultur kurang menguntungkan kepada petani apalagi cara ini sering membutuhkan input tinggi, bahkan kadang-kadang cenderung dapat mempunyai dampak yang kurang baik. Diversifikasi komoditas dalam usahatani yang meliputi tanaman pertanian baik tanaman tahunan maupun tanaman muda dengan hewan ternak bahkan dengan ikan dapat menjadi andalan dalam usahatani masa depan. Pertama, karena komoditas yang satu dapat memanfaatkan hasil samping dari komoditas lain seperti kotoran ayam atau sapi yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman atau tambahan makanan ikan sebaliknya bahagian tanaman tertentu juga dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak. Kedua, dengan diversifikasi komoditas akan mengurangi resiko kegagalan usaha atau terdapatnya saling subsidi keuntungan jika salah satu komoditas harganya kurang baik. Ketiga, akan dapat menjaga kelestarian lingkungan, menjaga kemungkinan serangan penyakit malaria.
Diversifikasi produk olahan dari satu jenis hasil pertanian perlu dikembangkan kepada petani. Namun hal ini harus diikuti dengan pembinaan pasar dari produk baru tersebut agar menjadi produk yang dapat dipasarkan dengan mudah. Pada saat ini tanaman nenas misalnya dapat dipasarkan sebagai nenas segar atau diolah menjadi keripik nenas, dodol nenas atau jus nenas yang semuanya dapat dilakukan pada skala kecil oleh petani atau pengrajin. Dibalik itu kulit nenas yang biasanya akan menjadi limbah saat ini dapat diolah lebih lanjut menjadi bahan miniman yang disebut Nata De Pina yang pembuatannya sangat mudah ditiru oleh petani.

Teknologi Pertanian dengan lingkungan dimodifikasi
Salah satu trend dalam usaha pertanian masa depan adalah pertanian rumah kaca (Greenhouse farming) dan pertanian rumah kasa (Screenhouse farming). Teknologi seperti ini selain merupakan upaya untuk melestarikan lingkungan juga dapat menghasilkan tanaman dengan kualitas dan kuantitas yang lebih tinggi dan hasilnya mencapai delapan sampai sepuluh kali dibanding dilapangan terbuka. Tanaman tomat cheri yang ditanam di rumah kaca di Palestina dan Israel dapat menghasilkan 400 ton sekali tanam sedangkan jika ditanam di tempat terbuka hanya 15 sampai 20 ton per hektarnya. Awalnya penggunaan rumah kaca lebih banyak di negara temperate zone yang mempunyai empat musim agar dapat bertanam pada musim dingin.
Dalam rumah kaca ini tanaman yang populer ditanam adalah sayur-sayuran dan ditanam di tanah atau bisa juga dalam air sebagai hidroponik. Tapi saat ini sistem pertanian rumah kaca sudah berkembang di berbagai negara lain seperti di Israel dan negara timur tengah lainnya. Pada saat ini sistem pertanian rumah kaca ini sudah mulai diintrodusir ke Indonesia. Minimal di tiga daerah seperti Sumatera Utara, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat telah digunakan sistem pertanian rumah kaca dengan hasil yang sangat menakjubkan malah tanaman bisa hidup lebih panjang. Teknologi ini juga sangat berpotensi dikembangkan di Riau karena lokasi wilayah Riau yang berada dekat dengan pasar produk pertanian bermutu tinggi yang hanya mungkin dihasilkan dari rumah kaca.
Penggunaan teknologi pertanian dengan rumah kasa juga sudah banyak berkembang dan dapat menghasilkan produk pertanian yang bebas hama tanpa menggunakan pestisida. Tanaman yang biasa diusahakan dalam rumah kasa adalah sayur-sayuran dan buah-buahan tertentu seperti tomat, ketimun dan strawberry. Malah teknik ini sudah diintrodusirkan oleh Singapura ke petani sayur di Pekanbaru untuk menghasilkan berbagai sayuran dengan kriteria tertentu seperti bebas pestisida, penggunaan bahan pupuk kimia yang minimal sehingga aman untuk dikonsumsi. Memang kedua sistem pertanian yang diuraikan ini sangat membutuhkan modal yang besar, akan tetapi secara komersial usaha pertanian ini sangat berpotensi untuk dikembangkan oleh perusahaan sawsta dengan modal yang cukup disamping dapat menyerap tenaga kerja yang relatif banyak.

Mengurangi senjang hasil untuk meningkatan produktifitas
Ada dua upaya yang dapat meningkatkan produktifitas pertanian, Pertama adalah mengurangi senjang hasil antara penelitian dengan hasil petani. Untuk tanaman padi saja masih terdapat perbedaan hasil yang dilaporkan oleh Litbang Pertanian dengan hasil yang didapatkan petani sekitar 2,5 sampai 4 ton per hektar dari varitas yang sama. Jika dibandingkan dengan berbagai Hibrida padi yang banyak didatangkan dari Luar negeri maka senjang hasil menjadi semakin besar bisa mencapai 4 sampai 5 ton per hektar sekali tanam. Untuk itu perlu dikurangi senjang hasil ini seminimal mungkin dengan jalan memperkenalkan dan membimbing petani menggunakan teknologi seperti yang dilaksanakan oleh peneliti.

Selanjutnya upaya yang kedua adalah meningkatkan indeks panen atau meningkatkan penanaman dari satu kali setahun menjadi dua atau tiga kali setahun. Upaya ini tentu memerlukan penyempurnaan sarana dan prasarana pertanian di lapangan seperti perbaikan sistem pengairan pada areal tertentu. Pencarian varitas-varitas baru yang cocok untuk kondisi lahan lokalita misalnya padi toleran air pengairan yang mengandung garam, varitas palawija tahan salin sehingga berpotensi ditanam di lahan pasang surut.

Reorientasi program Penelitian
Apapun bentuk teknologi baik yang sangat sederhana sampai yang sangat rumit selalu berasal dari hasil penelitian. Kegiatan penelitian dapat dilakukan oleh lembaga penelitian di perguruan tinggi, atau yang ada di instansi pertanian atau dapat pula dilakukan oleh perusahaan swasta. Seperti di daerah lainnya di Indonesia, di Propinsi Riau, masih banyak perusahaan-perusahaan swasta dengan alasan berbagai keterbatasan, enggan mengeluarkan dana untuk mengembangkan fasilitas untuk penelitian yang standard. Kebanyakan mereka mengandalkan teknologi yang sudah atau ada juga yang melakukan adopsi teknologi dari luar negeri setelah dilakukan percobaan untuk menyesuaikan dengan lingkungan usaha mereka.
Menghadapi era perdagangan bebas, dilain fihak, negara-negara maju (industri) selalu menggunakan isue-isue lingkungan, hak azasi manusia, demokrasi dan hak atas kekakayaan intelektual dalam memenangkan persaingan pasar produknya terhadap negara yang sedang berkembang. Oleh sebab itu kita di Riau sudah spatutnya mengambil inisiatif untuk melakukan reorientasi terhadap program penelitian di daerah. Dengan banyaknya perusahaan swasta, perguruan tinggi dengan berbagai fasilitas yang cukup dan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah jika berhimpun dapat membangun program penelitian yang standard dan fasilitas penelitian yang terakreditasi untuk menghasilkan teknologi pertanian yang handal. Ditunjang lagi dengan komitment Pemda untuk membangun Riau ke depan dengan menginvestasikan dana untuk kegiatan penelitian sebagai salah satu pilar pembangunan.

penulis Ragil Aji Subarkah, S.st

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar